Tujuan Akad

Tujuan Akad

Tujuan akad, yang merupakan rukun keempat menurut beberapa ahli hukum Islam kontemporer, dibedakan dengan objek akad, yang merupakan rukun ketiga akad. Yang terakhir ini, yakni objek akad. Objek akad merupakan tempat terjadinya akibat hukum sedangkan tujuan akad adalah maksud para pihak yang bila terealisasi timbul akibat hukum pada objek tersebut.

Tujuan akad dalam Islam dikenal dengan istiilah Maudhu Aqd adalah maksud utama disyariatkan akad. Dalam syariat Islam Maudhu Aqd hares benar dan sesuai dengan ketentuan syara’. Sebenarnya Maudhu Aqd sama meskipun berbeda-beda barang jenisnya. Pada akad jual-beli misalnya, Maudhu Aqd pemindahan kepemilikan barang dari penjual kepada pembeli, sedangkan dalam sewa menyawa pemindahan dalam mengambil manfaat disertai pengganti.

Tujuan dan hukum suatu akad disyariatkan dalam hukum Islam, tujuan akad ditentukan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an dan Nabi Muhammad SAW dalam Hadist. Menurut ulama figih, Tujuan akad dapat dilakukan apabila sesuai dengan ketentuan syari’ah tersebut. Apabila tidak sesuai, maka hukumnya tidak sah.

Tujuan akad ini ditandai dengan beberapa karakteristik, yaitu

  1. Bersifat objektif.
  2. Menentukan jenis tindakan hukum.
  3. Tujuan akad merupakan fungsi hukum dari tindakan hukum.

Ahmad Azhar Basyir menentulcan syarat-syarat yang hares dipenuln agar suatu tujuan akad dipandang sash dan mempunyai akibat hukum, yaitu:

  1. Tujuan akad tidak merupakan kewajiban yang telah ada atas pihak-pihak yang bersangkutan tanpa akad yang diadakan.
  2. Tujuan harus berlangsung adanya hingga berakhirnya pelaksanaan akad.
  3. Tujuan akad harus dibenarkan syara’.
  4. Tujuan Akad dan kaitannya dengan Kausa

Beberapa pengkaji modem melihat konsep tujuan akad ini, sebagai kausa yang menjadi dasar keabsahan dan pembatalan perjanjian. Menurut Wahid Sawwar tujuan akad ini adalah dasar perikatan kedua belah pihak. Dalam akad jual beli misalnya tujuan pokok akad itu adalah pemindahan hak milik atas barang dari penjual kepada pembeli dengan imbalan, dan ini merupakan manifestasi syar’i (yuridis) dari tujuan akad itu, kemudian didalamnya terdapat lagi manifestasi rill, yaitu pertukaran yang timbale-batik. Manifestasi pertama merupakan dasar keterikatan pembeli untuk membayar sejumlah uang sebagai harga dan manifestasi kedua merupakan dasar penolakan (ketidakterikatan) pembeli untuk membayar harga dalam hat barang objek akad mengalami kerusakan atau hancur sebelum diserahkan, karena dasar keterikatannya untuk membayar adalah pertukaran timbal balik ini tidak terjadi, keterikatan para pihak menjadi gugur. Lebih lanjut, tujuan akad merupakan sumber kekuatan mengikat bagi tindakan hukum bersangkutan, yaitu dasar pemberian perlindungan hukum terhadapnya. Oleh pembeli atau tuntutan pembeli terhadap penyerahan barang oleh penjual .

Sementara itu Khalid ‘Abdullah ‘Id menyatakan tujuan akad (al-maqshad al­ashli li al-`aqd) ini sesungguhnya merupakan kausa perjanjian dalam hukum Islam dengan melihat kaitan erat antara tujuan akad tersebut dengan objek akad (mahall aqad). Menurut Khalid `abdullah ‘Id, salah satu syarat pokok untuk terjadi akad dalam hukum Islam adalah bahwa objek akad tidak dapat menerima hukum akad, dimana apabila objek akad tidak dapat menerima hukum akad, maka akad menjadi batal. Dalam akad jual beli misalnya, apabila objek jual beli adalah benda yang tidak bernilai (gair mutaqawwin) dalam pandangan syariah, seperti sabu-sabu, maka akad tidak pernah terjadi karena objek akad tidak dapat menerima hukum akad, yang tidak lain adalah tujuan yang hendak diwujudkan melalui akad sehingga akad jual beli tersebut batal (demi hukum). Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa batalnya akad adalah karena tidak terpenuhinya tujuan akad, yaitu tidak ada kausanya

Baca juga:

This article was written by ebagi