SYARIAH SEBAGAI PARADIGMA ALTERNATIF

 SYARIAH SEBAGAI PARADIGMA ALTERNATIF

Dengan menggunkan teori filsafat dan sosial, Brrel dan Morgan (1979), menjelaskan empat perbedaan paradigma secara sosiologi dalam bidang akuntansi. Keempat paradigma itu adalah : fungsionalis, interpretatif, humanis, radikal, dan strukturalis radikal. Sementara ahli lain melakukan klasifikasi ulang model akuntansi berdasarkan pada suatu perspektif sistem, yaitu : model yang berorientasi pada data, kegunaan keputusan, dan kategori sumber organisasional, dimana akuntansi keuangan tampaknya sebagai data yang dikumpulkan dari suatu organisasi dan mengubahnya menjadi laporan informasi tertentu yang sesuai dengan lingkungan. Velayutham dan Rahman (1992) menggunakan matrix multidimensional dalam mengklasifikasikan teori akuntansi, yaitu : tujuan akuntansi (deskriptif/normatif), pendekatan dalam formulasi teori (deduktif, induktif, eklektif), asumsi-asumsi dasar (ekonomi, sosiologi, etika, perilaku manusia, kominikasi), dan tingkap pengembangan teori akuntansi.

Berdasarkan paradigma yang dikembangkan oleh Khun (1970), paradigma baru dapat dikembangkan yaitu paradigma akuntansi syariah yang dikembangkan berdasarkan kepercayaan masyarakat muslim. Paradigma tersebut menunjukkan bahwa syariah diturunkan dari tiga sumber, yaitu : Al Qur’an, Hadist, fiqh. Sumber-sumber tersebut urut secara hierarki tidak dapatmendahului satu terhadap yang lainnya. Sumber yang pertama adalah selalu Al Qur’an, diikuti Hadist, fiqh, dan seterusnya.

Tujuan utama syariah adalah mendidik setiap manusia, memantapkan keadilan dan merealisasikan keuntungan bagi setiap manusia di dunia maupun akhirat. Syariah mengatur setiap aspek kehidupan umat muslim, baik politik, ekonomi, dan sosial dengan menjaga keyakinan, kehidupan, akal, dan kekayaan meraka

Sumber :

https://rianablog.com/di-sydney-antrean-iphone-8-hanya-30-orang/

This article was written by ebagi