RHESUS darah

Table of Contents

RHESUS darah

RHESUS darah

Rhesus adalah sistem penggolongan darah berdasarkan ada atau tidaknya antigen D di permukaan sel darah merah, nama lainnya adalah faktor Rhesus atau faktor Rh. Nama ini diperoleh dari monyet jenis Rhesus yang diketahui memiliki faktor ini pada 1940 oleh Karl Landsteiner.

Seseorang yang tidak memiliki faktor Rh di permukaan sel darah merahnya memiliki golongan darah Rh- (Rhesus Negatif). Mereka yang memiliki faktor Rh pada permukaan sel darah merahnya disebut memiliki golongan darah Rh+ (Rhesus Positif).

Jenis penggolongan ini sering kali digabungkan dengan penggolongan ABO dengan menambahkan “+” bagi pemilik faktor Rhesus atau “-“ bagi yang tidak memiliki faktor Rhesus dalam darahnya sehingga kita mengenal golongan darah A+ atau A-, B+ atau B-, AB+ atau AB-, dan O+ atau O-.

85 persen penduduk dunia memiliki faktor Rhesus (Rh+) dalam darahnya, sementara 15% tidak memiliki faktor Rhesus (Rh-) dalam darahnya.

Menurut data BPS 2010 jumlah penduduk Indonesia yang memiliki Rhesus Negatif (Rh-) adalah < 1% yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Di Aceh sendiri, berdasarkan data dari Komunitas Rhesus Negatif Indonesia tahun 2012, jumlah pemilik darah Rhesus Negatif (Rh-) hanya 51 orang, yaitu 0,001% dari jumlah penduduk Aceh atau 1 : 100.000. Dapat kita bayangkan betapa langka dan sulitnya mencari orang dengan golongan darah Rh-.

Mengingat langkanya pemilik darah Rhesus Negatif (Rh-) ini, faktor Rhesus menjadi sangat penting terutama pada

  1. Transfusi Darah

Dalam proses transfusi darah, pemilik darah Rhesus Negatif (Rh-) selalu kesulitan dalam proses pemenuhan kebutuhan darah karena jumlah pendonor aktif Rhesus Negatif (Rh-) tidak banyak. Hal ini menjadi masalah tersendiri bagi pemilik darah Rhesus Negatif (Rh-) karena darah Rhesus Negatif (Rh-) harus menerima darah Rhesus Negatif (Rh-) lagi.

Darah Rhesus Negatif (Rh-) dapat ditransfusikan kepada darah Rhesus Positif (Rh+) jika dalam uji silang (crossmatch) cocok, sementara darah Rhesus Positif (Rh+) tidak dapat ditransfusikan kepada darah Rhesus Negatif (Rh-) walaupun cocok dalam uji silang (crossmatch) karena dalam tubuh pemilik darah Rhesus Negatif (Rh-) akan segera terbentuk antibodi anti Rh+ yang menyebabkan darah Rhesus Negatif (Rh-) tersebut tidak dapat lagi digunakan untuk transfusi ke Rhesus Negatif (Rh-) lain.

  1. Wanita Rhesus Negatif (Rh-) hamil dengan janin Rhesus Positif(Rh+)

Jika seorang wanita Rhesus Negatif (Rh-) menikah dengan seorang pria yang memiliki Rhesus Positif (Rh+), hampir 100% keturunannya akan memiliki Rhesus Positif (Rh+). Keberadaan janin dengan Rhesus Positif (Rh+) dalam tubuh wanita hamil Rhesus Negatif (Rh-), terutama yang telah memiliki antibodi anti Rh+ dalam darahnya akan memicu timbulnya Inkompatibilitas Rhesus yang berakibat fatal bagi janin yang dikandungnya.


Sumber: https://ironmanfactory.com/ahok-sosok-yang-paling-banyak-dicuitkan-tahun-ini/

This article was written by ebagi