perlawanan yang terus menerus dari kerajaan-kerajaan Islam

Kondisi Islam di Indonesia Abad XVIII-XI

Pada tahun 1494 M ditandatangani sebuah perjanjian di kota Tordesilas, sehingga terkenal dengan sebutan persetujuan Tordesilas.[4] Persetujuan ini mendorong kedua bangsa yang mengadakan kesepakatan tersebut berlomba-lomba untuk menguasai daerah di luar wilayah Eropa. Sejak saat itu daerah-daerah yang telah dikuasai mulai merasakan cengkeraman imperialismenya, mereka menganggap seolah-olah dunia milik mereka.
Setelah Malaka berhasil dikuasai, Portugis bergerak mencari daerah sumber penghasil rempah-rempah di Indonesia bagian timur. Daerah yang berhasil dikuasai seperti Ternate, Tidore, Ambon, dan Bacan. Dalam gerak langkah orang-orang Portugis senantiasa diikuti oleh misionaris Katholik Roma yang bertugas menjadikan penduduk setempat memeluk agama Katolik Roma. Oleh karena itu setiap kedatangannya di suatu wilayah, bangsa Portugis selalu mendapat sambutan perlawanan dari para para penguasa muslim setempat, seperti perlawanan yang dipimpin oleh Sultan Hairun dari Ternate. Meskipun ia gagal dan gugur, namun akhirnya Portugis dapat diusir oleh putranya (Baabullah) pada tahun 1575 M.
Menghadapi perlawanan yang terus menerus dari kerajaan-kerajaan Islam, kedudukan Portugis semakin goyah. Di samping itu datangnya bangsa-bangsa Barat lainnyq seperti Belanda mengakibatkan persaingannya lebih besar. Lemahnya Portugis bukan berarti aman bagi Indonesia dari gangguan imperalisme, karena kedudukan Portugis digantikan Belanda. Portugis dikalahkan Belanda pada tahun 1605 M dan berkuasa atas Ambon. Sebagaimana Portugis, Belanda datang ke Hindia Timur dalam rangka mendapatkan rempah-rempah.
Pada akhir abad ke-18 Imperium perdagangan Belanda mengalami kehancuran, baru dapat dipulihkan kembali pada abad ke-19 dan menjadi sebuah negara teritorial yang sangat luas wilayahnya. Sementara itu ada dua kekuatan yang mengancam imperium Belanda, yaitu pertama persaingan Inggris. Pada tahun 1786 Inggris membuat perjanjian dengan Sultan Kedah, yang isinya adalah memanfaatkan Penang sebagai tempat perbaikan dan mempersiapkan kapal-kapal menuju Samudera Hindia serta sebagai basis yang dari tempat itu mereka dapat menjual barang-barang Inggris untuk meningkatkan penghasilan. Penang diserahkan pada tahun 1791 dan tanah lainnya di propinsi Wellesley juga diserahkan pada tahun 1800.

Ancaman bagi Belanda lainnya adalah

revolusi Perancis, peperangan Napoleon, dan penaklukan Belanda oleh Perancis pada tahun 1975. Setelah William V terguling, selanjutnya dibentuk Republika Belanda atas dukungan Perancis dari tahun 1795-1806.
Malaka dan beberapa daerah koloni Belanda diserahkan kepada Inggris oleh Williem untuk kepentingan melawan Perancis, karena waktu itu (1810) Belanda dikuasai Perancis. Pada peperangan melawan Perancis, Inggris berhasil menguasai Jawa. Setelah perang berakhir, Inggris menyerahkan kembali wilayah-wilayah yang pernah dikuasai Belanda dengan maksud melindungi Belanda sebagai penengah antara Inggris dan Perancis serta untuk mencegah persekutuan Belanda dengan Perancis pasca Perang.
Namun ternyata Inggris tidak begitu saja melepaskan semua wilayah yang telah dikuasai, terbukti Inggris masih tetap mempertahankan kekuasaannya atas jalur di Malaka dan membentuk basis baru di Singapura pada tahun 1819. Perjanjian juga diadakan pada tahun 1824 yang berisi tentang pengakuan Belanda terhadap kekuasaan Inggris atas India dan Malaya, sebaliknya Inggris mengakui kekuasaan Belanda atas Sumatera, Jawa, dan wilayah Hindia lainnya. Demikian juga di bagian utara Semenanjung Malaya diberlakukan kebijaksanaan politik baru yang sama sekali tidak cocok dengan suku, bahasa, budaya, agama, dan tentu saja batas-batas wilayah tradisional.
Konsolidasi kekuasaan Belanda atas Jawa membuka jalan bagi ekspansi Belanda ke wilayah Hindia Timur lainnya. selama rentang waktu 1824-1858, Belanda telah menguasai seluruh Sumatera. Ekspansi Belanda didorong oleh ketertarikannya pada produk gula, kopi, tembakau, lada juga rempah-rempah. Namun setelah tahun 1870 interesnya lebih kepada komoditas timah dan karet.
Ekspansi komersial dan militer menimbulkan permasalahan antara Belanda dengan Aceh, yaitu perebutan kekuasaan atad beberapa pelabuhan lada di wilayah Sumatera bagian Barat dan Utara. Setelah dua kali penyerangan yaitu tahun 1871 dan 1874, Belanda meresmikan aneksasinya terhadap Aceh sekaligus penghapusan kesultanan Aceh. Belanda juga menuntut penyerahan para uleebalang dengan tanpa syarat. Hal ini mengakibatkan para ulama Sumatera melancarkan perlawanan gerilya.
Perluasan kekuasaan Belanda terus bergerak sampai ke luar Sumatera, seperti kepulauan Celebes Tengah dan Selatan, Maluku, Borneo, dan beberapa wilayah lainnya juga jatuh dalam imperium Belanda. Untuk mengontrol daerah-daerah tersebut Belanda mengangkat kepala-kepala lokal sebagai perpanjangan tangannya. Tahun 1911 Belanda telah menyempurnakan kekuasaannya di Hindia Belanda.
Penguasaan kolonial atas Hindia Belanda (Indonesia) dapat dikatakan hanya efektif di jawa, hal ini disebabkan wilayah Hindia Belanda yang begitu luas dan beragam. Belum lagi memang pada umumnya masyarakat, sedari awal tidak menyukai kedatangan kolonial Belanda, sehingga untuk memantapkan kekuasaannya harus terlebih dahulu menghadapi kekuataan penguasa lokal. Jadi jika ingin seluruh wilayah Hindia Belanda tertangani dengan baik dibutuhkan pejabat dan personil yang lebih besar pula.[5]


Sumber: https://swatproject.org/

This article was written by ebagi