Pengertian Astanga Yoga

Pengertian Astanga Yoga

Pengertian Astanga Yoga

Astanga yoga merupakan salah satu jalan untuk memperoleh penyatuan dengan Tuhan melalui latihan yang sangat keras dan teratur, sehingga apa yang menjadi tujuan kita tercapai. Yoga bukan merupakan tradisi yang mati, yang kemudian stagnan tanpa perubahan, melainkan selalu berubah dan dieksplorasi oleh para pelakunya, sehingga senantiasa menghasilkan perubahan yang dianggap lebih efektif. Ada banyak aliran dalam yoga, karena yoga bukan merupakan satu kesatuan utuh. Melainkan pendapat dan latihan setiap alirannya berbeda dan tidak dapat didamaikan. Jadi, ketika kita berbicara tentang yoga, artinya kita membicarakan tentang banyak aliran dalam yoga. Satu aliran yang paling senior, terkenal dan berpengaruh adalah aliran Patanjali yang dikenal dengan Raja Yoga. Dan aliran ini yang akan kami bicarakan di sini, karena jika harus menguraikan perdebatan berbagai aliran, akan sangat menyita waktu.

Patanjali, dalam Kita Yoga Sutras, memuat penjelasan tentang delapan aspek yoga yang dikenal dengan ashtanga-yoga. Kedelapan ruas ini, seringkali digambarkan sebagai tangga yang membimbing kehiudpan biasa menuju realisasi Diri dan melampaui personalitas ego.

Delapan jalan menuju ‘penyatuan’ Asthanga-yoga dan Etika dalam ajaran Yoga

Tujuan Yoga ialah untuk mengembalikan Citta itu dalam keadaannya yang semula, yang murni tanpa perubahan, sehingga dengan demikianpurusa itu dibebaskan dari kesengsaraannya. Sementara menurut Matius Ali, Tujuan Yoga Patanjali adalah mencapai kebebasan melalui konsentrasi dan Samadhi. Istilah teknis untuk pencapaian ini adalah ‘pembebasan’ (kaivalya). Menurut Sri Aurobindo, Raja-Yoga bertujuan untuk mencapai pembebasan dan penyempurnaan diri mental, yakni pengendalian seluruh perangkat pencerapan, emosi, pikiran dan kesadaran.

Mahārși Patañjalidalam kitab Yoga Sutrasmenyusun ‘8 ruas yoga’ (Asthanga-yoga) sebagai sebuah metode spiritualitas praktis dalam Yoga Sutras (2.29)

  1. Disiplin Moral (Yama)
  2. Disliplin Diri (Niyama)
  3. Postur Tubuh (asana)
  4. Pengendalian Napas (pranayama)
  5. Pengendalian Indera (Pratyahara)
  6. Konsentrasi (Dharana)
  7. Meditasi (Dhyana)
  8. Ekstasis (Samadhi)

Agar purusa itu bisa dilepaskan dari ikatan prakrti, orang harus dapat menindas wrtti itu, yaitu dengan meniadakan klesa-klesa. Sebab klesa itu mewujudkan satu fungsi yang menjadi dasar pembentukan karma, yang menimbulkan awidya atau ketidak-tahuan. Di dalam kehidupan kejiwaan manusia, terdapat suatu perputaran yang tidak putus, yaitu perputaran wrtti, kecenderungan-kecenderungan, klesa-klesa, awidya dan seterusnya. Tujuan Yoga ialah untuk mematahkan perputaran yang tidak putus ini, dengan perlahan-lahan meniadakan klesa-klesa dan memberhentikan wrtti. Hal ini hanya dapat diwujudkan melalui usaha (abhyasa) yang terus-menerus dan keadaan tanpa nafsu (wairagya). Manusia dapat melepaskan diri dari nafsu melalui usaha dan latihan yang panjang sehingga dapat membedakan antara pribadi dengan yang bukan pribadi, melalui asthanga-yoga.

Delapan aspek asthanga-yoga ini dapat dibagi menjadi dua bagian yang besar, yaitu: pertama,mulai dari yama sampai pratyahara disebut pertolongan-pertolongan yang tak langsung atau yang dari luar (bahiranga); dan mulai dari dharana sampai Samadhi, yang disebut pertolongan-pertolongan yang langsung dari dalam (antaranga)

Kedelapan aspek yoga tersebut dapat dilihat dari dua perspektif, yakni: pertama, sebagai unifikasi kesadaran yang tumbuh; kedua, sebagai pemurnian diri yang progresif. Kedua sudut pandang ini tercermin dalam Yoga-Sutras.


Sumber: https://tutubruk.com/

This article was written by ebagi