Pendapat Mayoritas ahli-ahli hukum Islam

Pendapat Mayoritas ahli-ahli hukum Islam

Asas umum bahwa objek akad harus dapat dipastikan bisa diserahkan atau dilaksanakan adalah hasil penyimplan menurut beberapa ahli hukum Hambali. Para ahli hukum Islam berbeda pendapat dalam menyimpulkan asas hukum dari kedua hadist diatas dan hadist lain yang serupa berbeda dengan penegasan yang dibuat diatas, mayoritas ahli-ahli hukum islam menyimpulkan syarat umum akad dari hadist-hadist diatas, yaitu  objek akad harus ada pada waktu akad ditutup. Pernyataan paling tegas mengenai ini dikemukakan oleh Al-kasanih (W. 587/1190), ahli hukum Hanafi, ‘ adapun syarat yang berkaitan dengan objek aka dada beberapa macam, diantaranya adalah bahwa objek itu ada pada wakt akad ditutup, sehingga tidak terjadi akad jual beli barang yang tidak ada atau barang yang berisiko menjadi tidak ada.’Asy-Syirazi (W. 576/1083), ahli hukum Syafi’I, mengatakan, “tidak dibenarkan jual beli objek yang tidak ada, seperti buah yang belum jadi berdasarkan alasan hadir riwayat Abu Hurairah bahwa Nabi Saw. Melarang jal beli garar, dan ytang dimaksud dengan garar adalah sesuat yang tidak dapat dipastikan perihalnya dan tidak diketahui kelanjutannya”.

Pandangan Mazhab Hambali

Dalam hal ini, penafsiran Mazhab Hambali, seperti dikemukakan oleh Ibn Taimiyyah (W. 728/1328) dan muridnya, Ibn Al-Qayyim (W. 751/1350),  lebih responsive terhadap kepentingan hukum masyarakat. Menurut kedua ahli hukum Hambali ini, asas bahwa akad jual beli barang yang tidak ada pada saat pentupan akad adalah tidak sah harus ditolak, karena tidak ada didalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw, maupun dalam pernyataan para sahabatnya larangan jal beli objek yang belum ada. Yang ada didalam sunnah Nabi Saw adalah larangan jual beli beberapa barang yang belum ada dan jga larangan jual beli beberapa barang yang sudah ada. Alasan hukum (‘illat, causa legis ) larangan tersebut bukan tidak adanya barang tersebut pada waktu penutupan perjanjian, tetapi yang tercantum dalam sunnah Nabi Saw adalah larangan jual beli objek yang bersiafat garar, yaitu objek yang tidak bisa dipastikan dapat diserahkan kepada pembeli, baik bedanya ada maupun tidak ada.

  1. Menurut beberapa Hadist Nabi Saw antara lain adalah
  2. Hadist Hakim Ibn Hizam yang menyatakan bahwa Nabi Saw bersabda, jangan engkau menjual barang yang tidak ada padamu (HR. An-Nasa’i)
  3. Hadist Abu Hurairah yang mengatakan : Rasulullah Saw, melarang jual beli lempar krikil dan jual beli garar.

Sumber: https://carbomark.org/

This article was written by ebagi