Pelestarian Tempat Suci Agama Hindu

Pelestarian Tempat Suci Agama Hindu

Pelestarian Tempat Suci Agama Hindu

Berbagai macam bentuk dan jenis tempat suci

yang diwariskan oleh para leluhur kita, perlu dilestarikan keberadaannya, karena di dalamnya terdapat berbagai macam kekuatan alam yang dapat mengantarkan kita menikmati keselamatan dan kebahagiaan dalam hidup ini.

          Ajaran agama Hindu yang tertulis dalam kitab suci weda, menjelaskan bahwa berbhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan roh suci leluhur dipandang kurang sempurna jika dilakukan dengan berdoa atau sujud bhakti. Rasa bersyukur atas anugrah yang dilimpahkan kepada kita sekalian menjadi sempurna bila sujud bhakti yang kita persembahkan dilengkapi dengan upakara (sesaji dan tempat suci). Persembahan yang demikian adalah sebagai yadnya yang sempurna.

Tempat suci sebagai simbol alam semesta beserta isinya, menurut ajaran agama Hindu dapat difungsikan sebagai sthana Tuhan Yang Maha Esa beserta prabhawa-Nya dan roh suci para leluhur, hendaknya dipelihara atau dilestarikan keberadaannya sehingga tetap menjadi suci. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melestarikan tempat suci yaitu dengan melaksanakan panca yadnya (Dewa yadnya, Bhuta yadnya, Rsi yadnya, Manusa yadnya, dan Pitra yadnya). Salah satu contoh pelaksanaan Dewa yadnya adalah membangun tempat suci, memelihara kebersihannya dan sebagainya. Kemudian salah satu contoh nyata pelaksanaan Bhuta yadna dalam kegiatan sehari – hari adalah memelihara lingkungan agar tetap lestari, bersih, aman, dan damai.

Agar upaya – upaya untuk melestarikan keberadaan tempat suci dapat tercapai dengan baik, terutama memelihara kesucian dan kesakralannya maka perlu ada Bisama yang harus dipedomani, diketahui, dipahami, dan dilaksanakan oleh setiap umat antara lain :

1)   Tidak masuk tempat suci dalam keadaan kotor, cuntaka atau leteh, baik yang disebabkan oleh diri sendiri maupun oleh orang lain, dan lingkungan di mana kita berada.

2)   Tidak masuk tempat suci dalam keadaan pikiran, perkataan, prilaku yang dikuasai oleh amarah atau brahmatya.

3)   Tidak bercumbu rayu di tempat suci.

4)   Tidak membawa barang – barang, tumbuh – tumbuhan, dan binatang yang belum disucikan oleh yang berwenang untuk memasuki tempat suci.

5)   Melarang dan menghindari binatang masuk tempat suci.

6)   Menghindari aktivitas hidup dan kehidupan yang dapat mencemari kesucian tempat suci.

Seluruh aktivitas umat manusia yang baik berdasarkan petunjuk ajaran agama dapat memberikan manfaat untuk terciptanya kesucian dan kesakralan dari tempat suci. Manusia memiliki kewajiban untuk mewujudkan hal itu oleh karena hanya dia yang dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk.

Tempat suci biasanya dibangun pada bagian hulu atau luhan dari tempat pemukiman para krama atau umat. Hal ini melambangkan sebagai kepala atau sumber pemikiran dari para krama atau umat yang menjadi pengemponnya. Bila kepala dari pengemponnya dalam keadaan indah, bersih, dan sehat, maka pada jiwa raga dari para pengempon yang bersangkutan dapat terwujud kedamaian. Kedamaian yang menjadi idaman setiap umat bersumber pada setiap pribadi dari umat yang bersangkutan.


Sumber: https://penirumherbal.co.id/

This article was written by ebagi