Objek Akad

Objek Akad

Objek akad dalam islam dikenal dengan istilah Mahallul ‘Aqd adalah sesuatu yang dijadikan objek akad dan dikenakan padanya akibat hukum yang ditimbulkan. Bentuk objek akad dapat berupa benda berwujud dan benda tidak berwujud

Objek hukum segala sesuatu yang bisa berguna bagi subjek hukum dan dapat menjadi pokok suatu hubungan hukum, yang dilakukan oleh subjek hukum, biasanya diamakan benda atau hak yang dapat dimiliki dan dikuasai oleh subjek hukum

Menurut pasal 503 KUHP Perdata benda dibedakan menjadi dua, yaitu :

  1. Benda berwujud
  2. Benda tidak berwujud.

Sedangkan menurut pasal 504 KUHP Perdata benda dibedakan menjadi dua, yaitu :

  1. Benda bergerak
  2. Benda tidak bergerak

Apabila objek akad berupa benda, maka kejelasan objek tersebut terkait pada apakah objek tersebut hadir (ada) dimajelis akad (tempat ditutupnya perjanjian) atau tidak.  Bilamana objek dimaksud (hadir) pada majelis akad, maka kejelesan objek tersebut menurut ahli-ahli hukum Hanafi dan Hambali, cukup dengan menujukkan kepada mitra janji sekalipun objek tersebut berada dalam tempat tertutup, seperti gandum atau gula dalam karung. Menurut ahli-ahli hukum Maliki, menunjukkan tidak cukup melaikan harus dilihat secarta langsung jika hal itu memang dimungkinkan. Jika tidak mungkin dilihat cukup dideskripsikan. Ahli-ahli hukm Syafi’I mengharuskan melihat secara langsung terhadap objek, baik objek itu hadir atau tidak ditempat dilakukannya akad.

Apabila objek akad berupa perbuatan, maka seperti halnya objek yang berupa benda, objek tersebut harus tertentu atau dapat ditentukan, dalam pengertian jelas dan diketahui opleh para pihak. Dalam akad melakukan suatu pekerjaan, pekerjaan itu harus sedemikian rupa sehingga meniadakan ketidak jelasan yang mencolok.

Syarat-syarat Objek akad

Syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam Mahallul ‘Aqd yaitu :

  1. Objek akad harus ketika akad

Berdasarkan syarat ini, barang yang tidak ada ketika akad tidak sah dijadikan objek akad.

  1. Objek akad dibenarkan oleh syari’ah

Pada dasarnya, benda yang menjadi objek akad haruslah memiliki nilai dan manfaat bagi manusia.

  1. Objek akad harus jelas dan dikenali

Satu benda yang menjadi objek akad harus memiliki kejelasan dan diketahui oleh akad. Hal ini bertujan agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara para pihak yang dapat menimbulkan sengketa.

  1. Objek dapat diserahterimakan.

Benda yang menjadi objek akad dapat diserahkan pada saat akad terjadi, atau pada waktu yang telah disepakati.

Adapun syarat lain menurut para ahli hukum Islam objek akad dapat ditransaksikan. Suatu objek dapat ditransaksikan dalam hukum islam apabila memenuhi kriteria-kretaria berikut yaitu :

  1. Tujuan objek tersebut tidak bertentangan dengan transaksi, dengan kata lain sesuatu tidak dapat apabila transaksi tersebut bertentangan dengan tujuan yang ditentukan untuk sesuatu tersebut.
  2. Sifat atau hakikat dari objek itu tidak bertentangan dengan transaksi, dengan kata lain sesuatu tidak dapat ditransaksikan apabila sifat atau hakikat sesuatu itu tidak memungkinkan transaksi.
  3. Objek tersebut tidak bertentangan dengan ketertiban umum.

Sumber: https://multiply.co.id/

This article was written by ebagi