Menemukan Emas Permata di Tumpukan Kepiluan

Menemukan Emas Permata di Tumpukan Kepiluan

Menemukan Emas Permata di Tumpukan Kepiluan
Menemukan Emas Permata di Tumpukan Kepiluan

Setiap orang tentunya memiliki pasang surut kehidupan. Adakalanya suasana gembira, bahagia, tertawa, dan suka yang menghiasi hari-harinya. Namun, kala yang lain mungkin saja berganti dengan sedih, kecewa, murung, dan duka menyelubungi relung hati.   Hal ini lazim kita alami bahkan keduanya ibarat mata uang dua sisi yang bila dilempar maka akan muncul dua peluang, bila tidak suka maka duka yang didapat.

         Sebagai makhluk ciptaan Yang Maha Kuasa

, tentunya kita selalu bermunajat agar Sang Pencipta senantiasa melimpahkan segala kebaikan dan  kebahagiaan, namun terkadang ujian hidup  harus dilalui.  Ketika ujian datang menghampiri, tak ada seorang pun yang mampu menghindari. Namun, paling tidak kita bisa meminimalisir dampak yang mungkin ditimbulkan dari ujian (baca: bencana) yang menimpa. Seseorang yang mengalami ujian dan bencana, tentunya berada dalam keadaan pilu atau bahkan memungkinkan seseorang menjadi terpuruk.

Bila ditelisik, kata ‘pilu’  mengandung makna duka, susah hati, getir, sedih; sementara kata ‘kepiluan’ bermakna  kedukaan, kegetiran, kesedihan, kemasygulan. Berdasarkan makna kata tersebut, dapat dijelaskan bahwa kepiluan adalah suatu kondisi kejiwaan yang dipenuhi kesedihan, kegetiran, kepahitan, keterpurukan, atau  kegalauan yang ditimbulkan dari suatu ujian hidup, bencana, musibah,  atau kemalangan.  Lantas, apakah yang bisa dilakukan seseorang bila dirundung kepiluan?

        Memang ada  orang yang mampu bangkit dari kepiluan

, namun tak jarang ada orang yang justru mengalami hal yang sungguh menyedihkan bahkan beberapa di antaranya memutuskan mengakhiri masa hidupnya dengan cara pintas (bunuh diri).  Hal ini, biasanya dialami oleh seseorang yang merasa sangat terpuruk, tidak mampu menemukan jalan keluar dari permasalahan yang menimpanya, tidak punya teman atau saudara atau pasangan tempat berbagi, dan yang tak kalah pentingnya adalah orang tersebut memiliki kadar keimanan yang sangat rendah. Padahal, bila kita mau sedikit merenung dan menyadari bahwa setiap musibah, bencana, masalah yang terjadi di muka bumi dan menimpa manusia, semuanya atas izin dan kehendak Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, semuanya sesuai dengan skenario dan ketentuan-Nya.

Lalu bagaimanakah kita melewati kepiluan yang melanda diri kita? Beberapa hal yang bisa dilakukan di antaranya:

  1. Selalu berserah dan berpasrah diri hanya pada Allah, Tuhan Yang Maha Esa

Sebaiknya kita tidak terlalu membanggakan semua yang kita miliki

, misalnya harta, prestasi, atau jabatan. Semua yang kita punyai itu adalah titipan dari Sang Pencipta. Ketika kita mempunyai niat, cita-cita, dan harapan, alangkah lebih baik bila kita serahkan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih. Kita patut berusaha dan berikhtiar untuk menggapainya, tapi kepasrahan kepada-Nya tetaplah yang utama.

 

Sumber :

https://www.kakakpintar.id/

This article was written by ebagi