Manajemen Modal Kerja

 Manajemen Modal Kerja

Kita telah memahami bagaiman menghitung besarnya modal kerja operasi dan modal operasi. Pengelolaan modal kerja tersebut sangat penting dilakukan, khususnya untuk menjamin lancarnya kegiatan operasional bisnis dan terpenuhinya kewajiban-kewajiban jangka pendek.

Untuk melakukan pengelolaan modal kerja tersebut terdapat dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, siklus konversi kas (cash conversion cycle) yaitu periode yang dibutuhkan agar kas yang diinvestasikan untuk kegiatan bisnis dapat kembali dalam bentuk uang kas.

Seperti kita ketahui bahwa dalam kegiatan bisnis, uang yang dimiliki kita gunakan intuk membeli material untuk produksi, kemudian material tersebut kita proses, kemudian kita jual kepada konsumen. Adakalanya dalam proses penjualan tersebut kita memberikan tempo pembayaran sehingga kita hars melakukan penagihan untuk mengubah penjualan menjadi bentuk pendapatan kas.

Siklus di atas tentunya membutuhkan waktu. Semakin cepat waktu yang ada dalam siklus tersebut, maka kita berpotensi memiliki modal kerja yang semakin hemat. Kedua, besarnya tingkat pengembalian modal yang diinvestasikan (ROIC/ Return on Invested Capital) dan besarnya biaya modal (CoC/ Cost of Capital) .Nilai ROIC dapat diperoleh dengan membandingkan besarnya Laba Bersih dengan jumlah Modal uang diinvestasikan. ROIC menggambarkan kemampuan perusahaan untuk mendapatkan keuntungan dari setiap rupiah nominal yang diinvestasikan.

Sementara nilai biaya modal diperoleh, baik dari nilai bunga yang dibayarkan kepada kreditor maupun dari nilai keuntungan yang diminta oleh pemegang saham. Bisnis yang sehat akan memiliki selisih positif antara ROIC dengan CoC yang besar. Artinya, tingkat keuntungan yang diberikan oleh bisnis tersebut lebih besar dari biaya modal yang digunakan. Sehingga dalam konteks pengelolaan modla kerja, harus dipastikan bahwa terdapat surplus atas selisih ROIC dengan CoC diatas.

Secara spesifik, terdapat empat area dalam pengelolaan modal kerja. PertamaCash Management, yaitu upaya untuk mengoptimalkan jumlah kas yang dibutuhkan. Biasanya kas yang harus ada untuk kebutuhan transaksi, berjaga-jaga, maupun kebutuhan spekulatif lainnya. Kekurangan kas akan membuat bisnis dalam masalah. Usaha Anda bisa gagal mendapat margin keuntungan atau Anda mengalami kemungkinan menutunnya image perusahaan karena tidak mampu memenuhi kewajiban-kewajiban yang jatuh tempo.

Namun, terlalu banyak kas yang dimiliki juga mengidentifikasi adanya kesemapatan yang hilang (opportunity loss) untuk mendapatkan tingkat keuntungan dari investasi. Oleh karenanya, perlu disusun formulasi jumlah kas yang optimal. Sementara itu, untuk tujuan operasional pengelolaan, dapat digunakan anggaran kas.

KeduaInventory Management yaitu upaya untuk mengelola tingkatan sendiaan sehingga tidak terjadi over-stock yang menyebabkan kebutuhan modal kerja terlalu besar (padahal tidak diperlukan). Atau, terjadinya under-stock yang menyebabkan permintaan konsumen tidak terpenuhi.

Ketiga, Account receivable Mangement yaitu upaya mengelola besarnya piutang kepada konsumen. Adakalanya untuk meningkatkan penjualan atau meningkatkan hubungan dengan konsumen diperlukan tempo pembayaran yang lebih fleksibel (lebih panjang) kepada konsumen. Namun, terlalu lama tempo pembayaran yang diberikan akan menyebabkan modal kerja yang dibutuhkan meningkat.

Keempat, Account payable Mangement yaitu upaya untuk mengelola besarnya utang dagang yang kita miliki. Semakin besar utang dagang, akan membuat makin kecilnya modal kerja yang dibutuhkan. Hal yang sama juga berlaku untuk tempo pembayaran utang. Semakin panjang waktu yang diberikan untuk melakukan pembayaran utang, maka modal kerja yang dibutuhkan akan semakin sedikit.

  1. Manajemen Utang

Dalam bisnis, adakalanya modal sendiri yang digunakan tidak lagi mencukupi. Oleh karenanya, pemilik usaha dapat mengundang pihak lain untuk turut serta memiliki bisnis tersebut, menjadi pemegang saham melalui penyertaan modal. Jika pilihan tersebut diambil, maka konsekuensinya pemilik usaha akan berbagi kepemilikan dengan investor.

Adakalanya karena pertimbangan tertentu, seseorang enterpreneur tidak menginginkan kondisi tersebut terjadi. Sehingga dia lebih suka mengundang pihak lain (kreditor) untuk memberikan pinjaman dana untuk digunakan dalam bisnis. Dalam berhubungan dengan kreditor, pebisnis tidak akan berbagi kepemilikan dengannya, tetapi sebagai konsekuensinya, kreditor akan memberikan skema pembayaran atas dana yang digunakan tersebut.

Karena alasan tersebut, penggunaan utang dapat menjadi alternatif solusi pendanaan, disamping secara ekonomis terbukti biaya utang lebih murah dibandingkan biaya modal sendiri. Namun demikian, Anda harus berhati-hati sebelum berutang. Anda harus memastikan bahwa tingkat keuntungan yang Anda hasilkan dari kegiatan bisnis tersebut mampu digunakan untuk membayar cicilan yang disyaratkan oleh utang tersebut. Jika kondisi tersebut tidak dipenuhi, maka penggunaan utang akan membuat modal yang Anda tanamkan akan semakin berkurang, dan Anda berada dalam kondisi awal kebangkrutan.

This article was written by ebagi