“Impor Guru” Bukan Solusi Masalah Pendidikan

“Impor Guru” Bukan Solusi Masalah Pendidikan

Impor Guru Bukan Solusi Masalah Pendidikan
Impor Guru Bukan Solusi Masalah Pendidikan

Rencana pemerintah mendatangkan guru dari luar negeri untuk mengajar di Indonesia

dinilai bukan menyelesaikan masalah pendidikan di Tanah Air. Masalah utama dalam dunia pendidikan Indonesia saat ini adalah bagaimana meningkatkan kualitas guru.
Kebijakan (rencana impor guru) tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak percaya terhadap guru di dalam negeri. “Kami mempertanyakan rencana pemerintah yang akan mengimpor guru ke Tanah Air yang disampaikan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK),” kata Wakil Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Setiawan Salim, di Jakarta, Jumat (10/5).

Sebelumnya, Menko PMK, Puan Maharani, usai menghadiri diskusi Musrenbangnas

mengatakan bahwa pemerintah akan mengundang guru atau pengajar dari luar negeri untuk mengajar di Indonesia. Guru asing itu untuk mengajar ilmu-ilmu yang dibutuhkan di Indonesia. Rencana tersebut, kata Setiawan, menimbulkan keresahan para guru di daerah yang tergabung dalam FSGI.
“Kami khawatir ini akan berdampak terhadap motivasi guru dalam mengajar di kelas nantinya. Penjelasan lebih detail dari Kemenko PMK sangat penting agar informasi yang berkembang tidak simpang siur,” jelas Satriawan.

Ia mengatakan jika alasan impor guru tersebut karena Uji Kompetensi Guru

(UKG) secara nasional yang masih rendah, program yang mestinya dilakukan pemerintah adalah memberdayakan dan melatih guru-guru di dalam negeri dengan pelatihan yang bermutu.
Menurut Satriawan, jika impor guru ini benar-benar terjadi, akan berbahaya bagi kesempatan dan kelangsungan guru-guru di Tanah Air untuk mengajar dan mengembangkan dirinya. Nuansa kompetisinya tidak akan baik, sehat dan berkeadilan. “Tidak semestinya guru di Tanah Air menjadi tamu di rumahnya sendiri. Karena perannya nanti akan digantikan guru impor,” ujar dia.
Satriawan juga memastikan jika impor guru ini benar-benar terjadi, langkah tersebut berarti pemerintah tidak percaya terhadap guru di Tanah Air. Padahal, di dalam negeri banyak juga guru profesional dan berkualitas. Satriawan mengakui bahwa kualitas pendidikan di Tanah Air masih relatif rendah. Namun, solusinya bukan mendatangkan impor guru yang justru malah menimbulkan persoalan baru.

This article was written by ebagi