Ibnu Sa’ad dari Ibnu Sirin

KHALIFAH ABU BAKAR AHS-SHIDDIQ

AWAL ABU BAKAR MENJADI KHALIFAH

Nama Abu Bakar adalah Abdullah bin Utsman, kecuali apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Ibnu Sirin yang menyebutkan beliau bernama Atiq. Banyak perdebatan bagaimana Abu Bakar mendapatkan gelarnya dan apa sebabnya, ada yang menyatakan bahwa ia diberi gelar karena ketampanannya, karena kebersihan nasab keturunannya dimana diantara nenek moyangnyna tidak ada yang melakukan perbuatan tercela, dan yang lain mengatakan bahwa Abu Bakar mendapatkannya karena ia merengkuh kebenaran pertama kali.
Abu Bakar dilahirkan 2 tahun 2 bulan setelah kelahiran Rasulullah, atau seperti yang dinyatakan oleh Ibnu Hajar, Abu Bakar dilahirkan dua tahun enam bulan setelah tahun Gajah. Ayahnya bernama bernama Utsman bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib Al-Quraisyi At-Tamimi.
Selepas meninggalnya Rasulullah terjadi kekosongan kepemimpinan di kalangan kaum muslimin. Berkenaan dengan pengganti beliau sebagai kepala pemerintahan di Madinah, Rasulullah tidak meninggalkan wasiat maupun pesan kepada kaum muslimin. Perselisihan lain terjadi di Saqifah, yaitu balai pertemuan Bani Sa’idah. Disana kaum Anshar hendak mengangkat Sa’ad bin Ubadah sebagai pengganti Rasulullah. Maka pergilah Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah ke balai pertemuan tersebut.
Terjadilah perdebatan yang sengit disana, masing-masing kelompok mengajukan calon khalifah dan mengklaim bahwa calon mereka yang paling berhak atas kekhalifahan. Calon-calon tersebut ialah: Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib dan Sa’ad bin Ubadah. Terjadi perdebatan yang alot, kemudian Abu Bakar menwarkan dua tokoh Quraisy untuk dipilih sebagai khalfah yakni: Umar bin Khattab atau Abu Ubaidah bin Jarrah. Abu Bakar mengajukan calon tersebut demi menjaga keutuhan ummah dan menghindari permusuhan lama antara suku Aus dan Khazraj.
Kaum Anshar terkesan dengan pendapat Abu Bakar. Umar yang tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut mengangkat tangan Abu Bakar dan membaiatnya serta menyatakan kesediannya sebagai khalifah. Hal tersebut diikuti oleh Abu Ubaidah, kemudian seluruh kaum Muhajirin dan Anshar yang mengikuti pertemuan di Saqifah Bani Saidah.
Terdapat dua faktor yang mendasari terpilihnya Abu Bakar, pertama, menurut pendapat umum yang ada pada saat itu, khalifah haruslah berasal dari kaum Quraisy. Kedua, sahabat sependapat dengan keutamaan yang dimiliki oleh Abu Bakar; ia satu-satunya sahabat yang menemani hijrah Nabi, ia sering ditunjuk Nabi untuk mengimami shalat ketika beliau uzur, ia keturunan bangsawa, cerdas dan berakhlak mulia.
Sebagai khalifah, Abu Bakar mengalami dua kali baiat, pertama ketika berada di Saqifah Bani Sa’idah, yang dikenal dengan Baiat Khassah. Kedua, di Masjid Nabawi yang dikenal dengan Baiat Jamaah. Ketika di baiat di Masjid Nabawi, Umar mendahuluinya untuk berpidato, mengucap syukur kepada Allah dan menyeru kaum muslimin untuk menyatakan baiat kepada Abu Bakar. Abu Bakar kemudian menjadi khalifah pengganti Rasulullah yang dipilih secara demokratis oleh kaum muslimin.


Sumber: https://bengkelharga.com/

This article was written by ebagi