Disiplin Diri (Niyama)

Disiplin Diri (Niyama)

Disiplin Diri (Niyama)

Ruas kedua Raja-yoga Patanjali, yakni: ‘disliplin diri’ (niyama), bertujuan untuk mengendalikan energi psiko-fisis yang ditimbulkan dari pengendalian diri kehidupan batin para yogi. Jika kelima disiplin moral (yama) bertujuan mengatur latihan displin yang teratru sebagai unsur konstitutif keselarasan dengan dengan manusia lain, maka kelima aturan ‘disiplin diri’ (niyama) bertujuan menyelaraskan hubungan kelima disiplin diri dengan kehidupan secara menyeluruh dan dengan Realitas Transendental.

Dalam Yoga-Sutras (2.32) Niyama dijelaskan sebagai:

“Niyama terdiri atas kemurnian diri, berpuas diri, askese, studi teks spiritual dan penyerahan diri pada Tuhan.”

Kelima latihan niyama adalah:

  1. Kesucian atau kemurnian (shauca)

‘Kemurnian diri’ (sauca) merupakan kata kunci dalam spiritualitas yoga. Karenanya, tidaklah mengherankan bahwa kemurnian diri termasuk dalam daftar pertama dari kelima disiplin diri. Dalam Yoga Sutras (2.40) dijelaskan:

“Melalui pemurnian diri timbul kemuakan terhadap tubuh sendiri dan terhadap sentuhan dari tubuh yang lain.”

  1. Berpuas Diri (Samtosha)

Berpuas diri artinya tidak menginginkan lebih dari apa yang sudah dimiliki. Karena itu, berpuas diri merupakan keutamaan yang bertentangan dengan mentalitas konsumerisme modern yang didorong oleh kebutuhan untuk selalu mendapatkan lebih dari mengisi kekosongan batin. Berpuas diri adalah ungkapan dari penyangkalan diri,  yakni pengorbanan secara sukarela akan apa yang menurut takdir akan diambil dari kita pada saat kematian. Samtosha membuat para yogi mengalami keberhasilan atau kegagalan, susah atau senang dengan ketenangan hati. Dalam Yoga Sutras (2.42) samtosha dijelaskan sebagai:

        “Dengan berpuas diri, kegembiraan tertinggi dicapai”

Di sini, kita harus mengerti perbedaan antara ‘berpuas diri’ (contentment) dengan ‘kepuasan diri’ (satisfaction). Berpuas diri artinya menjadi diri kita seperti apa adanya, tanpa mencari kebahagiaan dari benda-benda di luar. Jika sesuatu datang, kita biarkan ia datang. Jika tidak, ya tidak masalah. Berpuas diri artinya bersikap apa adanya, yakni tidak menyukai dan juga tidak membenci.

  1. Askese (Tapas)

Askese merupakan unsur atau komponen ketiga dari niyama dan mencakup latihan, seperti: berdiri atau duduk diam dalam waktu lama; menahan kelaparan, kehausan serta panas dan dingin, berdiam diri, serta berpuasa. Kata tapas berarti ‘berkilau’, ‘panas’ dan merujuk pada energi psikosomatis yang dihasilkan dari latihan asketisme yang seringkali dialami sebagai rasa panas. Para yogi menggunakan energi ini utuk memanaskan kawah energi tubuh dan pikiran mereka, sampai menghasilkan kesadaran yang lebih luhur.

Dalam Yoga Sutras (3.46) tapas dijelaskan:

“Sebagai hasil latihan samyama akan datang, pencapaian anima serta kekuatan lain, seperti kesempurnaan tubuh, menjadi kebal terhadap umur tertentu” (Y.S. 3.46)

Askese tidak boleh dikacaukan dengan penyiksaan diri. Dalam Bhagavad-Gita (17.14-19), dibedakan tiga macam asketisme, tergantung pada kecenderungan dari ketiga kualitas alam (gunas):

“Penyembahan pada dewa-dewa, terhadap sulinggih, para guru dan orang bijaksan, kesucian, kejujuran, brahmachari, ahimsa, hal-hal ini disebut ujian (tapas) atas tubuh”. (Gita. 17.14)

“Ucapan kata-kata yang tidak menyakitkan hati, bebas dari hinaan, yang mengandung kebenaran, menyenangkan dan bermanfaat dan pengucapan Weda dengan teratur, inilah yang disebut ujian (tapas) dari ucapan” (Gita. 17.15)

“Ketenangan pikiran, kelemah-lembutan, baik hati, pendiam, penguasaan diri, kesucian hati, ini disebut pertapaan pikiran” (Gita. 17.16)

“Ketiga macam pertapaan yang dilakukan dengan kepercayaan yang teguh oleh mereka yang pikirannya kuat untuk tidak menghendaki buahnya, dikatakan sattwika, baik” (Gita. 17.17)

“Pertapaan yang dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan kehormatan, dan hanya sebagai pameran belaka, dikatakan Rajasika, dan adalah goyah dan tidak panjang umurnya” (Gita. 17.18)

“Pertapaan yang dilakukan dengan kebodohan, keras kepala dengan jalan penyiksaan diri dan untuk menyakiti orang lain adalah Tamasika, bodoh” (Gita. 17.19)

  1. Studi Teks Spiritual (Svadhyaya)

‘Studi teks spiritual’ merupakan komponen keempat dari niyama yang merupakan latihan yoga yang penting. Kata svadhyayayang dibangun dari kata sva yang berarti ‘sendiri’ dan adhyaya, artinya ‘masuk ke dalam’. Kata ‘studi’ merujuk pada pencarian makna tersembunyi dari teks kitab suci. Tujuan svadhyaya bukanlah sebuah pembelajaran intelektual, melainkan penerapan ke dalam kearifan kuno. Svadhyaya merupakan sebuah renungan meditatif mengenai kebenaran yang dibukakan oleh para Rishi dan arif bijaksana yang telah berjalan ke wilayah di mana pikiran tidak dapat mengikuti serta hanya hati yang menerima. Dalam Yoga Sutras (2.44) dikatakan bahwa:

        “Dengan mempelajari teks-teks spiritual, akan terjadi penyatuan dengan dewa-dewi yang disembah”.

  1. Penyerahan diri pada Tuhan (Ishwara-pranidhana)

Unsur terakhir dari Niyama adalah Ishwara-pranidhana, artinya penyerahan diri secara menyeluruh kepada Tuhan (Ishwara). Dalam Yoga Sutras dijlaskan bahwa:     “ Melalui penyerahan diri secara menyeluruh, samadhi dicapai”

Ishwara adalah salah satu dari Diri transendental yang satu dan banyak (purusha). Menurut definisi yang diberikan Patanjali, status Ishwara yang luar basa diantara banyak diri disebabkan oleh fakta bahwa Ia tidak akan pernah tunduk pada ilusi yang menghilangkan kemahatahuan serta kemahahadiran-NYa. DIri bebas yang lain, pernah sekali waktu mengalami kehilangan kemahatahuan dan kemaha-hadiran-Nya ketika mereka menganggap diri mereka sebagai sebuah personalitas egois partikular atau tubuh-pikiran terbatas. Secara inheren, semua diri adalah bebas, namun hanya Ishwara yang sadar akan kebenaran ini.


Baca Juga :

This article was written by ebagi