Pengertian, Ciri, Nilai dan Contoh Gurindam

Pengertian, Ciri, Nilai dan Contoh Gurindam

Pengertian, Ciri, Nilai dan Contoh Gurindam
Pengertian, Ciri, Nilai dan Contoh Gurindam

Pengertian Gurindam

Pengertian gurindam adalah karya sastra berbentuk puisi dua seuntai yang berima a-a. Meskipun terbentuk dalam dua larik, sebenarnya gurindam merupakan satu kalimat (dalam hal ini biasanya berupa kalimat majemuk dengan hubungan seperti sebab-akibat atau syarat-hasil). Larik pertama ”syarat”, sedangkan larik kedua ”jawabnya”.

Pada umumnya gurindam dibuat berbait-bait dengan isi bersifat nasihat, mirip dengan pepatah atau peribahasa. Sebenarnya gurindam merupakan satu kalimat (dalam hal ini biasanya berupa kalimat).

Contoh gurindam:

Kurang fikir, kurang siasat,
tentu dirimu kelak tersesat.
Fikir dahulu sebelum berkata,
supaya terelak silang sengketa.
Siapa menggemari silang sengketa,
kelaknya pasti berdukacita.

Ciri-ciri gurindam:

  • setiap bait terdiri atas dua larik
  • jumlah suku kata dalam setiap larik antara 10 – 14
  • bersajak aa
  • hubungan larik 1 dan 2 membentuk kalimat majemuk yang biasanya bersifat sebab-akibat.

Dahulu (seperti halnya pantun, talibun, karmina, dan bidal) gurindam dibuat oleh orang yang tak dikenal (anonim). Ada satu gurindam yang dahulu sangat terkenal karya Raja Ali Haji, yakni Gurindam 12  yang terdiri atas 12 pasal.

Berikut sebagian dari pasal pertama dari Gurindam 12 tersebut. Selebihnya bacalah Gurindam 12 dalam buku Puisi Lama karya Sutan Takdir Alisyahbana.

Contoh:

Barang siapa tiada memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama,
Barang siapa mengenal yang empat,
maka dia itulah orang yang ma’rifat.
Cari olehmu sahabat,
yang boleh dijadikan obat.
Barang siapa mengenal diri,
maka telah mengenal Tuhan yang bahri.
Hendaklah memegang amanat,
buanglah khianat.
Tahu pekerjaan tak baik, tetapi dikerjakan,
bukannya manusia itulah setan.

Bagaimana membawakan gurindam? Tidak berbeda dengan pantun. Hal yang dikedepankan adalah volume, lafal, intonasi, ekspresi, dan penghayatan yang tepat dan sungguh-sungguh. Cobalah dan nikmatilah!

Nilai-nilai dalam gurindam

Sebagaimana karya sastra lain, tentunya gurindam diciptakan untuk menggambarkan sesuatu yang telah, sedang, akan, boleh, tidak boleh, atau seharusnya terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Karya sastra dibuat untuk memberi hiburan sekaligus manfaat atau nilai bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, karya sastra yang baik, tidak terkecuali gurindam, seharusnya terkait dengan segala sesuatu yang terjadi atau mungkin akan terjadi dalam kehidupan nyata.

Sebaliknya, contoh teks ulasan guru pendidikan seorang apresiator atau penikmat sastra, dalam hal ini gurindam, harus mampu menggali, menemukan, dan kemudian mengaitkan pesanpesan atau nilai-nilai di dalamnya dengan kehidupan masa kini. Pesan-pesan atau nilai-nilai dalam gurindam sangat luas cakupannya, seluas samudra kehidupan.

Jika dirangkum, nilai-nilai tersebut mencakupi, antara lain

  • nilai agama,
  • nilai moral,
  • nilai sosial,
  • nilai pendidikan,
  • nilai adat istiadat, dan
  • nilai budaya/tradisi.

Di samping itu, seorang apresiator juga harus dapat menyimpulkan isi gurindam yang dibacanya. Menyimpulkan di sini berarti mengikhtisarkan, meringkas, atau menyarikan isi gurindam tersebut.

This article was written by ebagi