Mengapa Petir Bisa Terjadi?

Table of Contents

Mengapa Petir Bisa Terjadi?

Siapa yang masih ingat adegan pas Thor, Groot dan Rocket Raccoon mendarat di Wakanda? Keren banget ya! Apalagi kedatangan mereka dibuat lebih dramatis sebab tersedia petir berasal dari palu barunya Thor. Di film sih keren, namun kamu tau nggak jika di dunia nyata petir adalah momen alam yang terlampau ditakuti oleh banyak orang. Selain sebab kilatannya, petir termasuk memiliki nada yang dahsyat. Di sisi lain, petir termasuk terlampau beresiko sebab jika seseorang tersambar petir, maka badannya dapat terbakar. Aduh… Serem ya Squad?! Nggak heran kan jika tersedia banyak orang yang risau petir.

Ngomong-ngomong soal petir, yang kerap kami melihat di dunia nyata asalnya bukan berasal dari palu Thor ya Squad! Petir terjadi sebab gesekan antar awan yang melahirkan elektron-elektron bebas. Elektron? Apaan tuh? Jadi, petir adalah keliru satu momen yang tentang dengan listrik statis. Sebelum kamu pusing mikirin petir, bahkan mikirin Thor, saat ini kami studi listrik statis sama-sama yuk!

Listrik statis adalah suatu kumpulan muatan listrik dalam jumlah khusus yang tidak mengalir atau senantiasa (statis). Listrik statis timbul sebab benda-benda yang beraliran listrik saling berpautan tanpa adanya sumber energi listrik. Dengan kata lain, benda tersebut dapat membuahkan proton dan elektron tanpa pakai pembangkit listrik.

Kamu tentu pernah kan studi mengenai atom di pelajaran Kimia? Atom merupakan suatu dasar materi yang terdiri atas inti atom yang dikelilingi oleh elektron. Partikel-partikel penyusun atom adalah:

Elektron → muatan negatif

Proton → muatan positif

Neutron → muatan netral

Inti atom terdiri berasal dari proton dan neutron, pas elektron bergerak mengelilingi inti atom dalam lintasan khusus (berada di kulit atom). Nah, listrik statis ini terjadi sebab adanya pindahan elektron. Benda jadi bermuatan sebab elektronnya dipindahkan berasal dari benda satu ke benda lain.

Listrik statis yang memuat muatan positif dan negatif mencukupi sifat-sifat muatan listrik. Suatu atom dikatakan netral seandainya jumlah proton di inti sama dengan jumlah elektron di kulit, dikatakan bermuatan positif seandainya jumlah proton di inti lebih banyak daripada jumlah elektron di kulit, dan dikatakan bermuatan negatif jika jumlah proton di inti lebih sedikit daripada jumlah elektron di kulit.

Dari sifat-sifat muatan tersebut, dapat terlalu mungkin terjadi interaksi. Interaksi tersebut dapat jadi tarik-menarik atau tolak-menolak.

Oh iya, pada th. 1785, Charles Agustin Coulomb menemukan hukum dasar mengenai gaya listrik pada dua partikel bermuatan yang berbunyi: “Besarnya gaya tarik menarik atau tolak menampik pada dua benda bermuatan listrik berbanding lurus dengan muatan tiap-tiap benda dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak pada ke-2 benda tersebut”. Hukum ini dikenal dengan Hukum Coloumb.

Ada tiga langkah untuk memberi muatan pada listrik statis, yaitu: penggosokan, konduksi dan induksi.

Penggosokan

Konduksi

Cara yang ke-2 adalah dengan konduksi. Apa itu konduksi? Konduksi adalah mendekatkan benda yang bermuatan listrik ke benda yang tidak bermuatan listrik.

Induksi

Terakhir adalah dengan induksi yakni mengantarai muatan listrik di dalam suatu penghantar. Caranya adalah dengan mendekatkan benda yang bermuatan listrik ke penghantar yang dinamakan dengan elektroskop.

Tadi, di awal artikel sudah dikasih gambaran sedikit mengenai fenomena alam yang kerap terjadi di lebih kurang kami kan? Ya, petir. Petir merupakan keliru satu fenomena alam yang dapat kami saksikan. Yuk, kami bahas sedikit lagi mengenai fenomena listrik statis tersebut.

Fisika tentu tersedia di mana-mana dan kapan saja, termasuk termasuk dengan fenomena listrik statis ini. Salah satunya adalah petir yang kami sebut di awal artikel tadi. Bukan petirnya Thor ya Squad, namun petir yang kerap kami lihat. Petir dapat terjadi sebab awan yang bergesekan satu sama lain.

Setelah sistem pergesekan lahirlah elektron-elektron bebas yang kemudian berkumpul dan saling menguatkan satu dengan lainnya, agar memiliki memadai beda potensial untuk menyambar permukaan bumi. Saking berbahayanya petir, kini dibuat alat penangkal petir yang biasa dipasang di bangunan-bangunan tinggi.

Cara kerja alat penangkal petir ini berdasarkan prinsip induksi muatan listrik yakni mengantarai pada proton dan elektronnya. Jadi, petir yang menyambar di pada bangunan-bangunan tinggi tidak dapat membahayakan bangunan serta penghuninya sebab tersedia pindahan muatan listrik.

Selain petir dan penangkalnya, fenomena listrik statis yang lain adalah disaat kami mendekatkan punggung tangan ke televisi yang baru saja dimatikan. Seketika tangan kami dapat merasa disetrum oleh layar televisi tersebut. Ada termasuk rambut kering yang berbunyi gemerisik halus disaat disisir dengan sisir plastik, selanjutnya jika sisir tersebut didekatkan ke kertas kecil-kecil, kertas tersebut dapat melekat ke sisir plastik.

Selengkapnya : https://www.biologi.co.id/

This article was written by ebagi