Mahasiswa Menolak Mudik

Table of Contents

Mahasiswa Menolak Mudik

How’s life? Tell me how’s your family?

-cuplikan lagu Taylor Swift

Begitu rendah hati penyanyi Taylor Swift, menyempatkan bertanya kabar mahasiswa rantau yang tidak kunjung pulang pada libur lebaran. Akibatnya, rindu akan keluarga wajib dipendam rapat-rapat sebab tetap wajib selesaikan urusan di kota perantauan.

Banyak hal yang belum terselesaikan, mulai dari penelitian skripsi, menempuh program Kuliah Kerja Nyata, belum libur kerja, merangkai foto mantan, sampai menyiapkan bekal untuk dibawa pulang, yakni menjawab kapan lulus dan kapan punyai calon istri. Tidak heran tekanan-tekanan untuk langsung pulang kerap keluar dari keluarga, saudara, lebih-lebih tetangga.

Dari situ aku mampu memaknai kegalauan orang tua sedikit berlebihan. Sebab perasaan gundah gulana menunggu kepulangan sang anak menjadikan orang tua parno. Ambil perumpamaan ibu saya, “Kamu lagi dimana?,” kata beliyhou. Pertanyaan itu kerap sekali keluar di telepon genggam dan ingatan. Padahal aku bukan perantau nyentrik yang suka ngopi 8 jam/cangkir. C’mon bu, kulo boten neko-neko.

Mungkin sebab rutinitas ibu aku yang khusyuk mantengin berita televisi, lebih-lebih topiknya mahasiswa. Saya percaya tidak sedikit orang tua yang khawatir bersama dengan stereotip mahasiswa dalam pemberitaan media. Yang kerap ditampilkan aksi anarkis dan radikal mahasiswa, bukan pada tuntutan mereka yang absen dalam pemberitaannya.

Dari situ empati aku keluar kepada teman-teman yang umumnya perantauan. Karena dalam kenyataannya, orang tua mereka menghabiskan proporsi bensin sebulan untuk membeli pulsa. Tidak lain adalah demi meraih jawaban tentu mengenai kabar kesegaran anak-anaknya, lalu kabar perkuliahan, tanggal pulang, dan tetek bengek biaya hidup disana.

Tapi ini agak dilematis sebab aku tidak mau para orang tua tersesat di zamannya. Namun, apa yang kami baca, dengar atau tonton lewat media, bukanlah gambaran utuh dari apa yang terjadi. Melainkan kebijakan redaksi sebuah media dalam perspektif berita yang diambil menghambat apa yang kemudian disediakan kepada masyarakat. Didalam prosesnya, banyak fakta yang dihilangkan atau tidak diangkat. Padahal, tidak jarang fakta-fakta itu adalah Info penting, yang mampu memengaruhi penilaian penduduk pada sesuatu. Mbulet toh? pasti, begitulah media bekerja. Saya anjurkan jangan kerja di media.

Sejak kejatuhan Soeharto 1998, dilanjutkan bersama dengan liberalisasi pers, kami menyaksikan perubahan besar dalam orientasi pemberitaan media. Pada masa Soeharto, isikan media hampir seragam, baik pilihan tema maupun sumber berita yang diwawancarai. Bisa dibayangkan keberpihakan media yang seragam waktu itu, yang dinikmati penduduk tanpa keluar pandangan subjektif sebuah realitas. Mudeng gaes? paragraf ini gak perlu seh, biar tampak mengerti sejarah aja.

Dengan demikianlah aku mencoba menampilkan realitas yang kemungkinan belum dibaca, dengar atau tonton oleh mereka. Yaitu para orang tua mahasiswa rantau di planet ini.

Homesick
Saya sepakat bahwa kasus utama adalah “penyakit rumah” atau homesick. Ini adalah sesuatu yang wajar berada jauh dari tempat tinggal dan keluarga, tetapi jarang diungkapkan bersama dengan alasan gengsi. Puncak penyakit tempat tinggal berlangsung dalam sepekan menjelang lebaran.

Berbagai wujud rindu yang dirasakan, rindu Umi dan Abi, rindu Akhi dan Ukhti, rindu kucing, sampai rindu selimut tetangga pun menjadi penyakit tempat tinggal yang wajib dikesampingkan. Apakah Umi dan Abi berpikir bagaimana perasaan anak-anaknya? Anak-anak yang sudah merelakan dirinya menjadi perantau anti sambat garis keras. Bukankah mereka para generasi harapan bangsa? Maka dari itu, Umi dan Abi wajib mengerti anak-anak belum termasuk pulang sebab bertanggung jawab bersama dengan tugas-tugasnya.

Aktif di penduduk lebih kurang kost/kontrakan.
Memang, kerasnya kehidupan di kota menjadikan kami bermental baja. Tidak tersedia yang gratis hidup di perantauan, menjadi wajib pintar- pintar menyesuaikan keuangan agar mampu bertahan. Oleh sebab itu unggah-ungguh wajib diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Tidak sedikit mahasiswa yang menghabiskan duwit bulanan hanya dalam jangka waktu satu minggu, tidak heran orang tua khawatir bersama dengan situasi anaknya. Bukan perantauan terkecuali hanya mengandalkan duwit kiriman orang tua. Salah satu penghasilan lain mampu didapat dari mengambil perhatian warga lebih kurang kost. Dengan datang di pengajian, ikut kerja bakti, menjadi muadzin, mengantar anak tetangga sekolah, yang pada akhirnya mahasiswa sangat sebagai agent of change dalam masyarakat.

Beribadah
Di sini aku agak mengerutkan kening, sebab ibu aku kerap bertanya di mana saya, tetapi selalu lupa mengingatkan untuk beribadah. Tapi tersedia yang wajib diketahui para orang tua, bahwa mahasiswa tidak wajib diingatkan untuk beribadah kami tentu beribadah.

Karena, kala kehabisan duwit saku bulanan kami tentu ingat mati. Nah, menjadi dalam hal beribadah itu kami wajib ingat terkecuali kami akan mati besok hari, agar seluruh ibadah kami mulai khusyuk. Apalagi di sudah memasuki 10 malam terakhir bulan ramadhan. Yaitu malam seribu bulan pas diturunkannya kitab Al-qur’an oleh Gusti pengeran kepada Nabi Muhammad S.A.W.

Mengingat budaya dan orientasi hidup di kota lebih bersifat individualis, egois semata. Lantas apalah daya mahasiswa rantau tanpa beribadah, kerena hal berikut merupakan wujud komunikasi antara hamba dan Tuhan-Nya.

Sekian pernah cerita aku dan sebagian rekan mahasiswa yang belum mudik sampai hari ini. Semoga orang tua di tempat tinggal berlapang dada akan hal itu.

Sumber :https://www.lele.co.id/panduan-lengkap-7-cara-menanam-hidroponik-sederhana-di-pekarangan/

This article was written by ebagi