Budaya, Bahasa, Dan Komunikasi Dalam Menterjemahkan

Budaya, Bahasa, Dan Komunikasi Dalam Menterjemahkan

BUDAYA, BAHASA, DAN KOMUNIKASI DALAM MENTERJEMAHKAN
sumardiono, LP 2007
Abstract
Language is a produk of a specific culture. Language, therefore reflect the values plus norms of the culture. These reflect in its vocabulary plus metaphors. In translating a text, a translator must take cultural considerations into accounts. A translation without taking cultural aspect into one of the consideration will produse an unacceptable translation.

Pengantar
Menerjemahkan teks terhadap dasarnya adalah menerjemahkan budaya gara-gara bhs terhadap hakekatnya adalah produk dari budaya tertentu. Budaya tidak saja menyangkut apa yang nampak terhadap permukaan. Budaya melibatkan nilai-nilai kehidupan dan pergaulan dan juga apa yang diyakini dari sebuah masyarakat. Budaya adalah type hidup manusia biasa yang menyangkut nilai-nilai, keyakinan, dan prasangka yang dimiliki bersama dengan oleh sebuah penduduk didalam wadah kebahasaan dan kelompok sosial tertentu yang membedakannya bersama dengan kelompok yang lain (Tomasouw, 1986:1.2). Nilai-nilai dan keyakinan dan juga prasangka budaya itu tentu saja bakal terealisasikan didalam bhs yang bersangkutan. Dengan demikian, menerjemahkan, disadari atau tidak, tidak bakal sanggup terlepas dari tindakan mentransfer budaya.

Teks ini bakal mengatakan secara singkat pertalian pada bhs dan budaya, bagaimana aspek-aspek budaya kudu diperhatikan didalam proses penerjemahan dan juga contoh-contoh penerjemahan yang kudu menyimak factor budaya bhs sumber dan bhs sasaran; metafora dan culture-specific expression

Bahasa dan Budaya
Budaya didefinisikan Newmark (1995) sebagai langkah hidup dan manifestasinya yang khas dari penduduk tertentu yang memakai bhs tertentu sebagai alat untuk mengekspresikan. Jadi budaya diekspresikan oleh pendukungnya bersama dengan sebuah media ekspresi yang disebut bahasa. Atau sanggup pula kami simpulkan bahwa bhs adalah budaya verbal dari suatu masyarakat. Budaya adalah ide, bhs adalah ekspresinya.
Sementara, layaknya yang dikatakan Larson (1984), bahwa budaya adalah cetak biru sebuah masyarakat. Budaya berikan petunjuk bagaimana orang-orang didalam sebuah penduduk bersikap dan berperilaku (Tomasouw, 1986:1.3). Budaya mengendalikan tabiat kami di didalam penduduk dan memasang kami terhadap apa yang disebut status sosial. Budaya memberitahu kami apa yang diinginkan orang lain terhadap kami dan apa yang sanggup kami harapkan dari orang-orang di sekeliling kita.
Singkatnya, budayalah yang menghimpun orang-orang di didalam sebuah masyarakat. Untuk mobilisasi ini semua, budaya memerlukan sebuah perangkat untuk mengikat antar anggotanya. Perangkat inilah yang menghimpun aggotanya bakal nilai-nilai dan norma dan juga keyakinan mereka. Bahasa mengkomunikasikan nilai-nilai ini di pada anggotanya. Bahasa kemudian tidak saja perangkat yang mengkumunikasikan nilai-nilai itu secara pasif, bhs pun kemudian merekam apa yang diyakini suatu penduduk dan juga nilai-nilai dan norma.
Budaya merupakan latar belakang peristiwa linguistik bersama dengan bhs sebagai latar depannya. Apa yang nampak didalam panggung linguistik merupakan produk dari budaya yang melatarbelakanginya. Kita sanggup menarik sebuah asumsi bahwa apa yang jadi aturan-aturan kebahasaan sebuah bhs terhadap dasarnya adalah realisasi nilai-nilai dan keyakinan penduduk penutur bhs tersebuat. Dengan kata lain, kami sanggup berkeyakinan bahwa bhs adalah sebuah cermin besar dari budaya penduduk penuturnya. Bahasa merupakan ciri yang paling menonjol dari sebuah budaya yang sanggup diekspresikan sebagai sikap simplistik sebagai totalitas keyakinan dan tindakan suatu penduduk tertentu (Nida, 2001:13).
Pada sebuah budaya yang berkeyakinan bahwa pembeda gender adalah suatu hal yang penting, misalnya, maka bhs berikut bakal merekam nilai-nilai itu didalam kategori leksikal atau gramatikanya. Sebagian bhs di dunia merekam keyakinan ini. bhs Inggris, seumpama mengenal perbedaan kata ubah orang ketiga untuk laki-laki dan perempuan. Lebih jauh, bhs inggris apalagi membawa dampak perbedaan kata benda tertentu berdasar gender (Wardhaugh, 1997:312). Man-woman, boy-girl, widow-widower, master-mistress adalah sebagian kecil contoh. Di sini bhs merefleksikan nilai-nilai sosial sebuah masyarakat.
Bahasa tidak sanggup dicermati sebagai fenomena yang terpisah terhadap sebuah ruang hampa tetapi merupakan anggota integral dari sebuah kebudayaan (Hornby: 1988:39) sebagai anggota integral dari sebuah kebudayaan, bhs bersifat dinamis, mengikuti dinamika kebudayaan yang jadi wadahnya.
Konsekuensinya, seumpama nilai-nilai sosial penduduk berubah, bhs pun berubah. Dalam bhs Inggris kala ini kami memandang banyak kata-kata yang terhadap mulanya terikat gender layaknya misal di atas tidak dipakai lagi. Pemakai bhs Inggris kemudian lebih menentukan kata-kata yang tidak bias gender layaknya police officer sebagai ubah policeman atau policewoman, chair person sebagai ubah chairman. Ini semua adalah konsekuensi dari perubahan penduduk dari patriarkis jadi penduduk yang tidak lagi menerapkan diskriminasi gender. Ini adalah bukti dari pernyatan Hagfors bahwa semua teks/bahasa terikat oleh tempat dan kala dan juga konteks social di mana teks itu diproduksi yang mencerminkan kultur dan jamannya (Hagfors, 2003:3)
Bahasa terhitung mengendalikan langkah orang bersikap terhadap orang lain didalam penduduk tuturnya yang merupakan cermin nilai-nilai relasi sosial dan kekuasan didalam penduduk tersebut. Budaya Jawa, misalnya, merupakan budaya yang terlampau mengatur relasi sosial antar anggotanya yang berdasar status sosial.
Bahasa sendiri mencerminkan bervariasi segi dari budayanya. Misalnya, budaya yang mengenal kelas social layaknya budaya Jawa bakal merekam jatah kelas soial ini didalam bhs mereka. Nilai-nilai dan norma relasi sosial ini terekam didalam pemanfaatan level speech didalam bhs Jawa. Pemakaian level speech atau undha usuk didalam bhs Jawa mengatur ragam bhs yang dipakai berdasarkan siapa si pembicara dan siapa yang diajak berkata dan juga siapa yang tengah dibicarakan. Seseorang bersama dengan status sosial lebih rendah, sanggup gara-gara umur, kedudukan didalam pekerjaan maupun didalam masyarakat, bakal memakai ragam bhs lebih tinggi untuk berkata bersama dengan mereka bersama dengan status sosial yang lebih tinggi demikian sebaliknya. Seorang pembicara yang mengkaji seseorang bersama dengan status sosial lebih tinggi terhitung menuntut pemanfaatan ragam bhs tinggi. Pemakaian ragam bhs yang tidak pas bakal berakibat si pembicara mendapat cap tidak sopan dan bakal menyinggung lawan bicara.
Bahasa merupakan alat ekspresi budaya sekaligus individual dari si penutur yang memandang dunia lewat bahasanya (Hornby, 1988:40). Jadi didalam sebuah bhs terangkum dua ekspresi sekaligus, ekspresi individual dan ekspresi budaya di mana si penutur tinggal. Ketika seseorang berkata sesungguhnya ia tengah mengkomunikasikan dua inspirasi sekaligus, inspirasi yang bersifat individual dan inspirasi dari kebudayaannya.
Aspek Budaya didalam Penerjemahan
Pada th. 1923 seorang antropolog bernama Bronislaw Malinowski mengusulkan sebuah makna yang disebut ‘konteks situasi’. Ia mempelajari penduduk pulau Trobriand dan bahasanya Kiriwian. Di sana ia paham bahwa untuk paham percakapan mereka seseorang kudu paham budaya mereka. Dia berpendapat bahwa bhs hanya sanggup dipahami (memiliki makna) seumpama konteks keadaan dan konteks budaya secara implicit atau eksplisit dipahami oleh si pendengar dan si pembicara (Katan, 1999:72).
Malinowski menjadi bahwa ia kudu membawa dampak perubahan didalam menerjemahkan percakapan bhs Kiriwian ke didalam bhs Inggris. Dia kudu beri tambahan sebagian komentar perihal apa yang implisit didalam bhs Kiriwian jadi eksplisit didalam bhs Inggris. Dia kudu berikan penjelasan secara eksplisit keadaan tuturan yang tengah berlangsung, berikan keterangan bahwa tradisi dan keyakinan mereka terekam didalam percakapan mereka dan kudu dipahami ole pendengar dari kultur lain. Hanya bersama dengan paham faktor-faktor keadaan dan kulturallah percakapan mereka bakal sanggup dipahami (Katan, 1999:72).
Bahasa adalah anggota dari budaya, gara-gara itu penerjemahan dari satu bhs ke bhs lain tidak sanggup dilaksanakan tanpa ilmu yang lumayan perihal budaya dan struktur bhs berikut (Larson, 1984:431). Penerjemah kudu paham topic teks yang tengah ia terjemahkan. Ia kudu paham latar belakang budaya teks bhs sumber sekaligus latar belakang budaya teks bhs sasaran. Tanpa ini semua, teks terjemahan tidak bakal sanggup menyampaikan makna secara akurat. Penerjemahan adalah “transfer makna dari satu perangkat simbol tertentu yang berlangsung terhadap budaya tertentu …..ke didalam perangkat symbol yang lain didalam budaya lain” (Dostert didalam Larson, 1984:431)
.Penerjemahan, yang melibatkan dua bahasa, tidak sanggup terhindar dari efek dua budaya dari dua bhs yang bersangkutan, yaitu budaya bhs sumber dan budaya bhs sasaran (Wong dan Shen, 1999:10). Sehingga sanggup dikatakan penerjemahan adalah proses komunikasi interkultural. Karena budaya dan bhs layaknya dua segi dari koin yang sama, mentransfer bhs terhadap hakekatnya terhitung mentransfer kebudayaan. Seorang penerjemah tidak sanggup terhindar dari peran ini; peran sebagai komunikator antar dua budaya yang berbeda.
Penerjemah berupaya menjembatani gap kultural pada dua dunia dan membawa dampak sebuah komunikasi amat mungkin berlangsung di pada dua komunitas bhs yang berlainan (Bassnett, 1992:14). Lebih jauh Bassnet mengatakan bahwa bhs ibarat “hati didalam tubuh budaya” agar “pembedahan hati tidak sanggup meniadakan tubuh yang ada di sekelilingnya”. Jadi, tindakan seorang penerjemah yang memperlakukan teks bhs sumber terpisah bersama dengan kultur yang melingkupinya adalah suatu hal yang berbahaya.
Menerjemahkan terhadap hakekatnya adalah komunikasi antar budaya. ketika seorang penerjemah menerjemahkan teks dari budaya tertentu ke didalam budaya yang berbeda, dia kudu pertimbangkan informasi-informasi apa saja yang amat mungkin untuk disampaikan ke didalam teks bhs sasaran agar sanggup dipahami pembaca sasaran dan Info mana yang justru kudu disesuaikan bersama dengan kultur bhs sasaran. Tujuan utama penerjemahan – memindahkan teks ke didalam budaya yang berlainan – mengundang pertanyaan hingga sejauh mana komunikasi amat mungkin dari satu budaya ke budaya lain dan Info apa saja yang sanggup dikomunikasikan (ST-Pierre, 1997:8)
Bila budaya anatara bhs sumber dan bhs sasaran mirip, bakal lebih sedikit kesusahan yang dijumpai terhadap proses penerjemahan dan sebaliknya, semakin besar perbedaan budaya di pada keduanya bakal semakin besar kesusahan yang dijumpai terhadap proses penerjemahan. Kemiripan budaya bhs sumber dan bhs sasaran bakal membawa dampak terhadap mudahnya mencari padanan kata perkata yang tepat.
Salah satu masalah yang menyusahkan didalam penerjemahan adalah perbedaan budaya pada teks bhs sumber dan teks bhs sasaran (Larson, 1984:137). Sebuah kata yang didalam suatu kultur membawa konotasi positif mungkin membawa konotasi negatif didalam budaya lain. Kata babi misalkan terhadap penduduk di pedalaman Papua membawa konotasi yang terlampau positif. Babi identik bersama dengan kemakmuran dan simbul status sosial yang tinggi. Seorang wanita, dalam, proses perkawinan, apalagi dinilai berdasarkan berapa banyak ekor babi yang ditukar sebagai mas kawinnya. Sementara terhadap kultur muslim dan Yahudi, babi membawa konotasi negative. Babi dicitrakan sebagai simbol kekotoran dan kerakusan agar apalagi daging dan anggota lainnya diharamkan untuk dikonsumsi. Penerjemah kudu pertimbangkan nilai-nilai ini ketika menerjemahkan antar budaya.
Seorang penerjemah tidak hanya terkait bersama dengan konsep-konsep dari sebuah sisitem budaya, melainkan dua proses dari budaya yang berlainan (Larson, 1984:96). Setiap bhs bakal berikan label nama secara berlainan terhadap sebuah realitas yang sama. Perbedaan penamaan ini gara-gara perbedaan langkah dua budaya itu memandang sesuatu. Penerjemah bakal berupaya seakurat mungkin dan bakal pertimbangkan tiap kata dari teks bhs sumber bersama dengan hati-hati hingga ia mendapatkan padanan yang pas bukan saja padanan didalam rujukan benda secara umum, tetapi terhitung rujukan benda sesuai kontksnya. Ketika kami menerjemahkan kata rice ke didalam bhs Indonesia, di didalam kamus kami mendapatkan sebagian padanan sekaligus. Rice sanggup mengacu terhadap empat benda yang berlainan didalam bhs Indonesia, padi, gabah, beras dan nasi. Penerjemah bakal berupaya memakai pengetahuannya untuk memutuskan padanan kata mana yang paling pas untuk mengalihkan makna yang dimaksud bersama dengan pertimbangkan komponen-komponen makna dari kata rujukan. Kita memandang misal berikut:
(1) Thailand reduces its export on rice recently due to the internal energy problem
(2) The rice was served in a luxurious dish with traditional touch.
Pada kata-kata (1) penerjemah lewat konteks bakal pertimbangkan bersama dengan pengetahuannya kira-kira padanan apa yang pas untuk kata rice yang di eksport dari Thailand, apakah padi, gabah, beras, ataukah mungkin nasi demikian terhitung terhadap kata-kata (2), manakah yang sesuai dari padanan rice yang disajikan bersama dengan piring-piring mewah bersama dengan sentuhan tradisional.
Penting untuk diingat bahwa padanan yang sesuai pada dua bhs kudu dicari bukan padanan kata berikut secara terpisah tetapi bersama dengan langkah mengidentifikasi rujukannya secara real lewat konteks keadaan dan konteks kultural yang disajikan oleh teks bhs sumber. Seperti yang dikatakan Larson (1984) bahwa makna hanya ada gara-gara kontrasnya bersama dengan kata lain yang memiliki beberapa ciri yang sama dan kontras bersama dengan apa yang dirujuk didalam konteks keadaan tertentu kala kata itu digunakan.
Kosa Kata dan Budaya
Kita sudah paham bahwa tiap-tiap bhs memiliki konsentrasi kosa kata yang berbeda. Perbedaan ini terlampau terkait bersama dengan budaya, didalam perihal ini terhitung mata pencaharian, wilayah geografis, keyakinan dan langkah pandang penduduk pemakai bhs berikut terhadap dunia. Setiap penduduk membawa perhatian terhadap kehidupan yang berbeda. Masyarakat pedalaman Papua, misalkan, memusatkan kehidupannya terhadap berburu dan menghimpun makanan dan juga ritual-ritual kebiasaan dari penduduk berburu dan meramu. Sementara penduduk di kota-kota pelabuhan memusatkan kehidupannya terhadap berdagang dan berlayar untuk niaga. Di belahan dunia yang lain, di Amerika, penduduk memfokuskan kehidupannya terhadap pekerjaan, mencari uang, olahraga, sekolah dan keluarga. Perbedaan fokus kehidupan ini menciptakan perbedaan didalam kosa kata keseharian mereka
Sebuah penduduk bersama dengan kultur pertanian tentu bakal menyimpan lebih banyak kosa kata yang mengenai bersama dengan bercocok tanam, tumbuhan dan musim dibanding bersama dengan penduduk bersama dengan kultur berdagang. Bahasa Indonesia bersama dengan kultur masyarakatnya yang agraris memiliki kosa kata perihal padi dan turunannya secara lebih detail dibanding bhs Inggris. Kata padi, gabah, beras dan nasi, layaknya terhadap misal di atas, hanya memiliki padanan bhs Inggris tunggal yaitu rice. Bahasa Inggris tidak memakai pembeda keempat kata yang menurut penutur bhs Indonesia paham perihal yang berbeda. Perhatikan ungkapan di bawah ini:
(3) Nasibnya bagai telur di ujung tanduk didalam kompetisi mendatang.
(4) He is hanging on a thread in the coming competition.
Pesan yang sama diungkapakan bersama dengan langkah yang berbeda. Bahasa Indonesia melukiskan kegentingan bersama dengan ungkapan bagai telur diujung tanduk. Sementara, bhs Inggris menggambarkannya bersama dengan hanging on a thread, terkait di seutas benang. Tiap bhs bersama dengan latar belakang kulturalnya paham suatu hal bersama dengan langkah yang berbeda. Menurut hipotesis Saphir-Whorf didalam Wong (1999) komunitas linguistik yang berlainan memiliki langkah yang pengungkapan yang berlainan didalam mengalami, membedakan dan mengkonstruksi realitas.
Masing-masing penutur bakal memakai ungkapan-ungkapan figuratif bersama dengan symbol-simbol dan ungkapan yang dekat bersama dengan kulturnya. Ketika berhadapan bersama dengan ungkapan-ungkapan demikian, seorang penerjemah kudu berupaya seakurat mungkin dan pertimbangkan tiap kata dari teks bhs sumber bersama dengan hati-hati hingga ia mendapatkan padanan yang pas bukan saja padanan didalam rujukan benda, tetapi sekaligus konotasi dan makna figuratif yang ada di dalamnya.
Makna Figuratif yang Timbul Karena Budaya; Metafora dan Similie
Metafora dan simili terlampau berkait erat bersama dengan budaya itulah makanya menerjemahkan metafora dan simili jadi tidak mudah. Jika sebuah metafora diterjemahkan secara literal hasilnya sanggup jadi terlampau fatal gara-gara kata yang jadi perbandingan memnpunyai makna figuratif yang berlainan terhadap bhs sasaran. Kita ambil misal berikut
(3) He is an ox
Pada bhs sumber mungkin ox memiliki makna figurative liar dan jahat, tetapi terhadap bhs sasaran sanggup saja diartikan sebagai gagah atau mungkin pemberani. Di sini kami jadi paham bahwa tidak semua metafora gampang dipahami. Jika metaphor diterjemahkan secara literal, kata perkata, ke didalam bhs ke dua, metafor itu bakal disalahartikan (Larson, 1984:150)
Metafora dan similie terlampau mengenai erat bersama dengan budaya. metafora yang mengenai bersama dengan salju misalkan bakal sukar ditangkap maksudnya oleh pembaca dari penduduk yang berasal dari gurun. Perhatikan misal similie berikut:
(4) The cloth is as white as snow
(5) Bajunya seputih salju
(6) Bajunya seputih tulang
(7) Bajunya seputih kapas
Variasi penerjemahan terhadap (5), (6) dan (7) dimungkinkan seumpama penerjemah menerjemahkan kata-kata (4) ke didalam bahasa-bahasa bersama dengan latar belakang budaya yang berbeda. Penerjemah bakal mempertahankan kata-kata The cloth is as white as snow secara literal jadi ‘Bajunya seputih salju’ seumpama ia mendapati penduduk pembaca bhs sasaran masih mengenal salju. Tapi ia bakal menerjemahkannya jadi ‘Bajunya seputih tulang’ seumpama pembaca bhs sasaran membawa latar belakang budaya yang tidak mengenal salju tapi, katakanlah, membawa budaya peternakan. Pada pembaca obyek bersama dengan katakanlah latar belakang pertanian, ia mungkin bakal menejemahkannya jadi ‘Bajunya seputih kapas’.
Menurut Larson (1984) ada sebagian kesusahan yang mungkin kami dapati ketika kami menerjemahkan metafora atau similie. Larson melukiskan anatomi metafora dan similie yang terdiri dari tiga anggota yaitu topic, image dan point of similarity. Lewat pemahaman anatomi metafora dan similie ini kami bakal sanggup memecahkan kesusahan penerjemahan metafora yang mengenai bersama dengan budaya. Pada similie di atas, misalkan, sanggup kami gambarkan anatominya sebagai berikut:
the shirt :topic
snow :image
white :point of similarity
penerjemah kudu mengenali ketiga unsur di atas sebelum akan ia menerjemahkan sebuah metafora atau similie secara akurat.
Pada similie, proses penerjemahan sedikit lebih gampang gara-gara point of similarity sudah disebutkan terhadap kata-kata tersebut. Similie ditandai bersama dengan pemanfaatan kata seperti, bagaikan atau didalam bhs Inggris like atau as. Kalimat “she is as bright as a star” gampang dipahami bahwa topiknya adalah she, kala star adalah image. Di sini she yang merupakan persona dibandingkan bersama dengan a star didalam perihal kecerahannya atau keterangannya sebagai point of similarity.
Pada penerjemahan metafora, proses penerjemahan jadi lebih sukar terutama. Yang pertama, mungkin image yang digunakan terhadap metafora tidak dikenali terhadap bhs sasaran. Misalnya layaknya terhadap masalah di atas ketika penerjemah menerjemahkan kata-kata The cloth is as white as snow ke didalam bhs sasaran bersama dengan latar belakang geografis gurun pasir, misalnya, yang tidak mengenal salju. Kalimat That will be a slam dunk to their failure bakal tidak mungkin diterjemahkan ke didalam penduduk yang tidak populer bersama dengan olahraga bola basket seumpama penduduk Indonesia. Masyarakat Indonesia lebih mengenal olahraga sepakbola dibanding bola basket agar penerjemah kudu mengganti image bersama dengan suatu hal yang secara kultural lebih dekat bersama dengan budaya bhs sasaran. Terjemahan ‘Itu bakal jadi tendangan penalti bagi kekalahannya’ bakal lebih sanggup dipahami dari terhadap penerjemahan literalnya.
Di sini kami memandang bahwa image sebuah metafora atau similie terlampau berkait erat bersama dengan latar belakang kultural pemakai bahasa. Seorang penerjemah bersama dengan demikian kudu hati-hati didalam mengganti image sebuah metafora bersama dengan suatu hal yang lebih dekat bersama dengan budaya bhs sasaran.
Kesulitan yang kedua terhadap penerjemahan metafora atau similie adalah seumpama topic tidak dinyatakan secara eksplisit. Misalnya terhadap kata-kata The storm againts the parliament, topic dari metaphor tidak diungkapkan secara eksplisit. Storm terhadap metafora di atas mungkin saja berarti skandal, isu besar atau mungkin protes dari masyarakat. Di sini penerjemah kudu waspada didalam menerjemahkan. Pemahaman konteks secara mendalam mungkin bakal terlampau menopang didalam mendapatkan topic layaknya yang dimaksud penulis aslinya.
Kesulitan seterusnya adalah yang mengenai bersama dengan point of similarity. Pada similie, proses penerjemahan lebih gampang gara-gara point of similarity diungkapkan secara eksplisit layaknya terhadap misal (4) tetapi terhadap metafora, point of similarity tidak diucapkan secara eksplisit agar penerjemah kudu pandai-pandai mendapatkan point of similarity nya. Seperti terhadap misal kata-kata (3) He is an ox. Ox sanggup memiliki makna figuratif liar dan jahat atau sanggup terhitung kuat. Point of similarity sanggup dipahami secara berlainan oleh penerjemah yang berbeda
Kesulitan seterusnya yang mengenai bersama dengan point of similarity adalah seumpama point of similarity itu dipahami secara berlainan terhadap kultur bhs sumber dan kultur bhs sasaran (Larson, 1984:251). Image yang sama terhadap sebuah metaphor sanggup membawa makna figuratif yang berlainan terhadap dua bhs bersama dengan latar belakang Kultural yang berbeda. Ungkapan berikut sanggup jadi contoh
(8) My Lord is my shepherd.
Pada kultur bhs sumber mungkin image shepherd dihubungkan bersama dengan cii-ciri kepemimpinan yang bijak. Sebuah figur yang memelihara yang menuntun binatang gembalanya ke jalan yang benar. Ini tentu gampang dipahami terhadap kultur penduduk peternakan atau mungkin pertanian atau penduduk yang membawa peristiwa komunal demikian. Pada penduduk bersama dengan kultur yang berlainan mungkin image shepherd kudu dicari padanannya yang sesuai untuk memperoleh point of similarity layaknya yang terkandung terhadap teks bhs sumber.
Penerjemahan bersama dengan langkah berikan perincian secara parafrase mungkin sanggup terhitung menanggulangi penerjemahan ekspresi figurative. Meskipun begitu seorang penerjemah selamanya kudu sanggup paham makna yang ada dibalik metafora bersama dengan paham image point of similarity layaknya yang ditujukan teks bhs sumber. https://materisekolah.co.id/contoh-teks-eksplanasi-pengertian-ciri-struktur-kaidah-kebahasaan-dan-contoh-lengkap/

Culture-specific expressions
Lotman didalam Bassnet mengatakan bahwa tidak ada bhs yang sanggup bertahan hidup jika jika bhs berikut berada didalam kontekd cultural tertentu (Bassnett, 1992:14)
Meskipun kami hidup di tempat bersama dengan lingkungan material yang mengalami banyak persamaan dan bhs –bahasa yang dipakai manusia berisi ungkapan-ungkapan yang melukiskan benda-benda ini, seumpama matahari, sungai, hujan, gunung atau anggota-anggota penduduk seperti, bapak, ibu, saudara, tetapi sesudah manusia lewat kala yang panjang bersama dengan keadaan alamnya tiap-tiap mereka mengenbangkan budaya yang berbeda-beda layaknya apa yang mereka persepsikan didalam asumsi mereka.
Benda dan realitas yang sama sanggup dipersepsikan bersama dengan langkah yang berlainan terhadap tiap-tiap penduduk dan budaya agar tiap bhs memiliki banyak sekali ungkapan yang tertentu terhadap budayanya (Wong dan Shen, 1999:11). Orang Melayu menyebut ‘matahari’ sebagai matanya hari yang berarti kira-kira suatu hal yang membawa dampak kami sanggup memandang hari. Sementara, orang Jawa mempersepsikan ‘matahari’ sebuah benda dan realitas yang sama sebagai ‘srengenge’ yang berarti ‘sesuatu yang membara, menyala-nyala’. Jadi meskipun dua budaya, Melayu dan Jawa, merujuk realitas yang sama, tetapi mereka mempersepsikannya bersama dengan langkah yang berbeda.

Baca Juga :

This article was written by ebagi